Perbedaan Agile dan Waterfall: Mana yang Lebih Cocok?

Dalam manajemen suatu proyek, suatu perusahaan perlu memutuskan untuk menggunakan metode tertentu supaya tujuan bisa tercapai sesuai target. Contoh metode yang kerap perusahaan pakai adalah agile dan waterfall.

Lantas apa perbedaan agile dan waterfall? Kedua metode ini memang terkenal di bidang manajemen proyek. Cari tahu penjelasan selengkapnya berikut ini!

Apa Perbedaan Metode Waterfall dan Agile?

Apa Perbedaan Metode Waterfall dan Agile?
Sumber: Freepik

Metode waterfall dan metode agile adalah dua metode yang umum perusahaan pakai untuk mengerjakan sebuah proyek.

Namun, sebelum membahas mengenai perbedaan kedua metode ini, Anda perlu memahami pengertian dari masing-masing metode itu sendiri.

Melansir Workfront, metode waterfall merupakan sebuah approach dalam manajemen proyek yang menekankan pada perkembangan secara urut mulai awal hingga akhir proyek, layaknya aliran air terjun.

Metode yang sering para engineer pakai ini lebih berorientasi pada perencanaan yang cermat, dokumentasi yang rinci, serta eksekusi yang berurutan. Oleh karena itu, metode ini juga terkenal dengan sebutan metode tradisional.

Fase-fase umum dalam metode waterfall meliputi kebutuhan, desain, implementasi, verifikasi atau percobaan, serta penyebaran dan pemeliharaan. 

Sedangkan, metode agile memiliki alur kerja yang lain.

Melansir Wrike, agile adalah sebuah metode manajemen proyek yang berjalan dengan cara membaginya menjadi beberapa fase.

Fase-fase tersebut di antaranya adalah penyusunan konsep, inisiasi dan analisis, desain, konstruksi dan coding, percobaan, dan implementasi.

Pada metode ini, pekerjaan yang telah terbagi pada masing-masing pemangku jobdesc akan berjalan secara bersamaan, mulai dari proses perencanaan, eksekusi, hingga evaluasi.

Oleh karena itu, kolaborasi yang kontinu merupakan hal penting dalam pelaksanaan metode yang satu ini.

Berdasarkan pengertian masing-masing metode di atas, beberapa perbedaan agile dan waterfall adalah sebagai berikut:

  • Alur kerja kedua metode ini berbeda. Agile merupakan metode iterasi yang kontinu. Sedangkan, waterfall merupakan metode yang berurutan mulai dari awal hingga akhir.
  • Agile terkenal sebagai metode yang lebih fleksibel. Sedangkan, waterfall terkenal sebagai metode yang terstruktur.
  • Agile terbagi menjadi beberapa fase. Sedangkan, waterfall perlu melalui rangkaian proses yang sekuensial.
  • Fase percobaan pada metode agile terjadi secara bersamaan dengan pengembangan software. Sedangkan, fase percobaan pada metode waterfall terjadi setelah fase “build”.
  • Agile memungkinkan perubahan dalam kebutuhan pengembangan proyek. Sedangkan, waterfall tak punya ruang lingkup untuk mengubah kebutuhan apabila pengembangan proyek telah dimulai.

Metode Mana yang Lebih Baik untuk Perusahaan?

Metode Mana yang Lebih Baik untuk Perusahaan?
Sumber: Pixabay

Setelah mengetahui perbedaan dari kedua metode tersebut, saatnya memilih metode yang paling tepat untuk perusahaan Anda.

Ada beberapa pertimbangan yang perlu Anda cermati ketika memilih suatu metode untuk menjalankan suatu proyek.

Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan adalah kelebihan dan kekurangan masing-masing metode. Simak penjelasan berikut ini!

1. Metode Agile

Berikut ini kelebihan dari metode agile:

  • Berfokus pada keterlibatan klien pada setiap fase.
  • Tim agile cenderung memiliki motivasi tinggi dan lebih terorganisir sehingga hasilnya relatif lebih memuaskan.
  • Kualitas pengembangan dijamin terawat.
  • Tiap prosesnya bersifat inkremental sehingga meminimalisir risiko selama proses pengembangan.

Berikut ini kekurangan metode agile:

  • Kurang tepat untuk proyek pengembangan berskala kecil.
  • Memerlukan ahli untuk mengambil keputusan penting saat meeting.
  • Memerlukan biaya yang cenderung lebih banyak.
  • Berisiko keluar jalur apabila manajernya kurang tegas mengenai target outcome.

2. Metode Waterfall

Berikut ini kelebihan dari metode waterfall:

  • Kesalahan desain bisa diantisipasi pada saat fase analisis dan desain sehingga meminimalisir risiko kesalahan selama fase implementasi.
  • Biaya proyek bisa dianggarkan dengan lebih akurat sejak awal.
  • Pemantauan progres kerja lebih jelas dan terstruktur.
  • Keterlibatan klien yang cenderung minim sehingga meminimalisir ketertundaan proses produksi.
  • Developers yang baru join di tengah-tengah progres proyek bisa memahami seputar proyek tersebut dengan baik karena telah tertulis pada dokumen kebutuhan yang dirancang di awal fase.

Berikut ini kekurangan dari metode waterfall:

  • Durasi proyek bisa jadi lebih lama.
  • Minimnya keterlibatan klien bisa jadi membingungkan mereka akan tujuan yang sebenarnya ingin dicapai.
  • Klien tidak terlibat pada fase desain dan implementasi.
  • Ketika salah satu fase mengalami ketertundaan, keseluruhan fase juga akan ikut tertunda.

Berdasarkan poin-poin terkait kelebihan dan kekurangan masing-masing metode di atas, Anda bisa memutuskan metode mana yang cocok untuk Anda terapkan di proyek yang akan Anda kerjakan bersama tim.

Konsultasi Bersama Deltadata Mandiri

Apabila Anda masih belum yakin sepenuhnya mengenai metode mana yang cocok untuk Anda pakai di proyek yang Anda kerjakan, Deltadata Mandiri hadir sebagai solusi.

Deltadata Mandiri menyediakan layanan konsultasi untuk kebutuhan proyek perusahaan Anda.

Berisi tim dengan kombinasi skill teknis, komunikasi, dan kemampuan analisis bisnis yang mumpuni, Deltadata Mandiri akan membantu Anda mengambil keputusan untuk proyek Anda kedepannya.

Tertarik untuk konsultasi mengenai perbedaan agile dan waterfall untuk proyek Anda? Hubungi tim Deltadata Mandiri sekarang juga hanya di sini!